My Life in Words

Ada anekdot menarik mengenai ekonomi yang pernah saya baca.. Sangat menarik, dan lucu, sehingga membuat saya pusing sekaligus tertawa.. Begini kira-kira anekdot tersebut..

Ada dua orang mahasiswa S2. Mereka masing-masing juga adalah seorang pengusaha, bahkan bisa dibilang pengusaha yang sangat sukses.. Mereka adalah dua orang milyader, atau bahkan trilyuner, yang mungkin, saking bosannya dengan kehidupan usahanya, memutuskan untuk kuliah lagi. Tentunya kuliah ekonomi..

Dua orang mahasiswa ini, adalah rival. Yang satu ingin selalu mengalahkan yang lain.. Keduanya bila sedang bersama, selalu terlihat sedang beradu argumentasi..

Pada suatu hari, saat mau berangkat kuliah, mereka berjalan berdua. Seperti biasanya, mereka berdebat sepanjang jalan.. Di tengah jalan, salah satu dari mereka, sebut saja si A, melihat kotoran kerbau.. Ide iseng pun muncul dibenaknya.. Lalu ia pun menantang rivalnya, sebut si B, untuk memakan kotoran kerbau itu.. Bila rivalnya itu mau, ia akan memberikan uang sebesar 100 trilyun kepada rivalnya..

Si B awalnya marah besar.. Dalam hati ia merasa terhina karena martabatnya sebagai seorang yang terhormat seperti dilecehkan oleh tantangan si A.. Namun, sebagai seorang pengusaha dan akademisi ekonomi, ia pun memikirkan masak-masak tantangan tersebut.. Secara ekonomi, cost dan benefit, tantangan itu masuk akal dan sangat menguntungkan.. Akhirnya dengan pertimbangan yang matang, dan sedikit berat hati, ia pun menyetujinya..

Si B pun memakan kotoran kerbau tersebut.. Dan si A pun harus mentransfer 100 trilyun kepada si B..

Mereka pun melanjutkan perjalanan.. Beberapa saat kemudian, si B melihat ada kotoran kerbau. Kali ini, si B yang tadi sempat merasa terhina, merasa sangat tidak adil bila hanya ia yang memakan kotoran kerbau.. Lalu ia pun menantang si A untuk memakan kotoran kerbau tersebut.. Si A yang sudah bangkrut, setuju bila si B juga memberikan uang 100 trilyun kepadanya.. Si B pun setuju dengan syarat itu.. Dan si A akhirnya memakan kotoran kerbau juga..

Setelah melanjutkan perjalanan, mereka berdua pun sadar.. Dan tentu saja, menyesal.. Pada akhirnya, mereka berdua tidak mendapatkan gain atau profit apapun, dan alih-alih, malah mendapati diri mereka telah memakan kotoran kerbau.. Mereka bingung dengan kejadian ini, dan memutuskan untuk menanyakan kepada profesor mereka mengapa mereka bisa tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari suatu transaksi yang seimbang dan dilakukan berdasarkan rasio ekonomi..

Setelah menemui profesor dan menceritakan kejadiannya.. Si profesor, yang rupanya seorang ahli ekonomi pemerintahan, malah lebih terkejut lagi, lebih tepatnya, terkejut bahagia.. Si profesor tampak begitu senang dan sumringah dan bahkan berteriak gembira.. Kedua mahasiswa itu pun bingung dan heran atas reaksi si profesor.. Lalu setelah berhasil menguasai diri, si profesor pun berujar dengan semangat "Tahukah kalian? bahwa kalian baru saja memberi sumbangsih terhadap kenaikan Pendapatan Domestik Bruto nasional sebesar 200 trilyun hanya dengan transaksi memakan kotoran kerbau!! jenius!!!"


***

Dari anekdot ini bisa dilihat sebenarnya, bahwa terkadang indikator Pendapatan Domestik Bruto itu bisa rancu atau misleading kalo hanya disajikan dalam jumlah angka bulat total.. Namun, untuk menyajikan rinciannya, selain rumit, juga jarang orang awam tanpa latar belakang pendidikan ekonomi  yang akan dengan mudah dapat memahaminya..

Saya sering melihat di koran, di bagian ekonomi, ada berita mengenai pendapatan bruto nasional yang mengalami peningkatan.. Namun di halaman selanjutnya, di bagian sosial politik, terdapat berita mengenai kemiskinan yang masih belum tertanggulangi atau bahkan semakin parah, daerah-daerah yang masih tertinggal dan belum masuk listrik, meningkatnya angka kematian karena gizi buruk, pendidikan yang semakin tak teraih oleh masyarakat, belum terentaskannya buta huruf, serta meningkatnya jumlah TKI walaupun sering terdengar berita bahwa di negeri seberang majikan lebih ganas daripada kopral operasi seroja atau kodim semasa orba yang tidak dapat jatah beras seminggu. Kadang saya sering mendengus melihatnya, koran ini seperti mewartakan suatu ironi, atau malah sinisme.. Pendapatan Nasional naik? lalu bagaimana distribusi kenaikannya? Apakah kenaikannya akibat sektor moneter, yang kebanyakan dinikmati oleh golongan kecil konglomerat? Ataukah kenaikannya akibat konsumsi pemerintah yang naik? Terhambur dalam kunjungan luar negeri, studi banding, uang lembur untuk tidur di ruang sidang, dan apa? renovasi gedung DPR??

Akibatnya, akhir-akhir ini, saya jadi sering berpikir iseng, setiap membaca, melihat di tv atau mendengar berita tentang kenaikan pendapatan negara atau pertumbuhan ekonomi bangsa.. Jangan-jangan kemarin Sudono Salim, Abu Rizal Bakrie, atau Budi Sampoerna habis memakan kotoran kerbau..

Wassalam,
Akbar Gani
Read More …

"Jalur satu.. Jalur satu akan dipersiapkan untuk KRL AC Sudirman Express tujuan akhir Manggarai. Para penumpangnya harap mempersiapkan karcis terlebih dahulu"

"Yak jalur dua.. jalur dua akan masuk Kereta Diesel Langsam tujuan Sudimara, Serpong, Rawa Buntu, Cisauk, Parung Panjang, Tiga Raksa, Rangkas, Tenjo berhenti di tiap stasiun.. Para penumpangnya harap mempersiapkan diri"

Dua pengumuman itu lah yang terdengar dari pengeras suara Stasiun Pondok Ranji ketika saya baru saja menjejakkan kaki di sana.. Antara terengah-engah dan berusaha mengatur nafas karena tadi sempat berusaha berlari mengejar kereta yang biasa saya naiki untuk pulang kuliah, yang sialnya, hari ini datang dan berangkat lebih awal dari jadwal yang seharusnya.. Mengumpat kesal kepada kelancangan pihak kereta yang mendahului jadwal, saya masih sempat tersenyum geli mendengar dua pengumuman tersebut.. Ya! Apakah anda juga menyadarinya? Coba perhatikan lagi kedua pengumuman yang saya kutip di awal tulisan ini, ring a bell?

Ya! Pengumuman pertama adalah pengumuman tentang kedatangan kereta express yang harga tiketnya hampir empat kali lipat harga karcis kereta di pengumuman kedua, yang merupakan kereta diesel jadul. Dan dengan jarak tempuh kereta yang tidak sampai seperempat jarak tempuh kereta di pengumuman kedua.. Lucu, di pengumuman pertama, para calon penumpang diharapkan untuk mempersiapkan karcis terlebih dahulu, sedangkan di penguman yang kedua, para calon penumpang hanya diminta untuk mempersiapkan diri.. Mempersiapkan diri untuk apa? Mengapa harus sampai diumumkan segala? Dari pengumumannya saja, saya bisa menerka-nerka kalau menaiki kereta di pengumuman kedua adalah perjuangan keras berjibaku dengan keringat dan mempertaruhkan nyawa. Sedangkan menaiki kereta di pengumuman pertama, merupakan pengalaman singkat dalam buaian AC dingin namun tentu, sangat menguras kantong bagi sebagian orang (termasuk saya, hehe).

Alright, I know I know, money always talks right? Sebuah aksiom kapitalis yang menyatakan bahwa uang atau harga selalu berbicara.. Atau kalo kata tetangga saya yang orang betawi "harga mah kagak pernah bo'ong, pak haji!". Tapi seperti aksiom dan gagasan oksidentalis lainnya, negeri kita yang lucu, imut, dan unyu ini sangat gemar sekali mengimprot dan mengadopsinya setengah-setengah dan salah kaprah.. Dalam hal harga selalu berbicara, kadang hanya unsur harganya saja yang diperhatikan oleh pihak penjual jasa, tapi pelayanannya? Anda harus bersyukur kalau masih dapat menerima pelayanan standar paling minimum tanpa ada sedikit pun gangguan.

***

Saya yang setiap hari menggunakan jasa kereta sebagai moda transportasi untuk pulang-pergi kuliah, sering iseng mengamati keadaan pelayanan PT KAI, sebuah perseroan yang ditunjuk oleh pemerintah dan diberi wewenang untuk memonopoli penyediaan jasa angkut menggunakan kereta. Bukan karena saya seorang yang gemar mengamati sesuatu, tapi dikarenakan jadwal kereta yang sering telat (atau kadang kecepetan sehingga saya ketinggalan kereta) membuat saya sering nganggur bengong luntang-lantung tanpa juntrung di stasiun menunggu jadwal selanjutnya, yang kalo lagi apes, bisa-bisa baru ada dua jam kemudian.. Nganggur, laper tapi gak punya duit, mau tidak mau saya hanya bisa mengamati hiruk pikuk di stasiun..

Yang pertama saya perhatikan adalah, kurangnya bangku untuk duduk menunggu kereta.. Ini terjadi hampir di semua stasiun yang pernah saya kunjungi (Hampir semua stasiun koridor Kota - Depok, hingga Tanah Abang - Serpong pernah saya sambangi). Entah si penjual jasa tidak pernah merasakan bagaimana letihnya harus berdiri lama menunggu kereta, atau mereka terlalu percaya diri terhadap ketersediaan kereta sehingga para penumpang tidak akan pernah menunggu kereta terlalu lama dalam keadaan berdiri.. Ketidaktersediaan ini membuat para calon penumpang yang lelah, apalagi ibu-ibu yang tidak kuat berdiri lama, memilih untuk duduk di tangga atau menggelar koran duduk di peron. Hal ini tentu menambah keruh arus keluar-masuk penumpang dan calon penumpang.

Yang menarik, justru yang menyediakan tempat duduk biasanya adalah para pedagang warung yang ada di dalam stasiun (ya walau mereka pun sebenarnya dilarang berdagang apalagi sampai membuka warung di dalam peron. Tapi hey! Ini Indonesia Bung!). Keberadaan bangku-bangku mereka dapat membantu mengistirahatkan kaki-kaki calon penumpang yang lelah menunggu kereta. Dengan membeli satu buah aqua gelas , kita bisa duduk yaa setidaknya sekitar lima menit lah, kalau kelamaan beresiko dipelototi sama si pedagang soalnya, kan malu, hehe..

Lalu, hal kedua yang lazim di stasiun adalah banyaknya petugas keamanan, atau biasa disebut PKD, yang standby di peron. Dengan pakaian seragam gagah-gagah, pokoknya gak kalah deh sama tim SWAT nya orang bule, mereka menjaga keamanan di sepanjang peron.. Namun sayangnya, mungkin karena kebiasaan di negara kita, orang berseragam adalah yang dilayani, bukan melayani, mereka sering terlihat petantang-petenteng.. Ditanyain jadwal kereta, sering gak ngerti. Ditanyain masalah keterlambatan jadwal, juga gak ngerti. Suka main asal bentak orang aja, padahal itu penumpang yang beli karcis.. Adoh, ini siapa sih yang jadi pelayan dan siapa yang harusnya dilayani.. Mana suka ngerokok di peron lagi, sangat tidak sopan dan tidak mencerminkan disiplin.. Padahal mereka cuma kerja di stasiun dan dibayar untuk melayani, tapi gaya mereka kadang terkesan seperti orang yang punya lapak, huh!

Dan yang akhir-akhir ini lazim ada di stasiun adalah mesin pemindai tiket elektronis yang ukurannya sebesar sepeda motor. Sebagai info, semenjak PJ KA berubah menjadi PT KAI dan bekerjasama dengan pihak swasta (commuter) dalam penyediaan layanan kereta dan penjualan karcis, ada beberapa inovasi yang diciptakan dalam pelayanan stasiun. Salah satunya adalah diciptakannya sistem tiket elektronis untuk kereta AC. Pertamanya sih keren, alat-alat pemindai elektronis yang selama ini cuma bisa saya bayangkan atau lihat di film hollywood dan komik-komik jepang, tiba-tiba tersedia di setiap stasiun koridor JABOTABEK. Wih keren! Tapi tunggu dulu, saat pertama saya iseng bertanya ke loket stasiun dekat rumah saya mengenai harga kartu elektronis dan bagaimana saya bisa mendapatkannya, dengan santai, cuek, dan juteknya si penjaga loket berujar bahwa di stasiun itu tidak tersedia.. Wah indikasi bakalan "demenyar" nih, cuma gembar-gembor awal doang yang wah, ujung-ujungnya tidak berjalan.. Dan ternyata dugaan saya terbukti.. Sistem ini tidak berjalan sama sekali.. Tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya tentang keberadaan kartu tiket elektronis ini.. Dan bagaimana nasib alat pemindai karcis elektronik yang sebesar sepeda motor tersebut? Kebanyakan dibiarkan nganggur, ditutup karung atau terpal, atau maksimal dijadikan tatakan bagi tukang koran buat menjajakan koran dagangannya.

***

Lalu bagaimana dengan mutu pelayanan keretanya sendiri? Apa lebih baik daripada mutu pelayanan stasiunnya?

Yah, saya sempat merasakan bulan madu dengan kereta. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba jumlah kereta bertambah, dan kedatangan serta keberangkatan selalu tepat waktu sesuai di jadwal.. Namun, akhir-akhir ini, hal itu tidak terjadi.. Apa yang dulu manis, kini menjadi hambar-hambar pahit (oke, saya sudah mulai berlebihan)..

Keadaan jadwal yang teratur, mulai berantakan.. Kereta AC yang dulunya dingin, sekarang mulai panas karena AC nya mati.. Kereta kadang suka mogok, atau mengalami gangguan sinyal sehingga tertahan lama di stasiun.. Keadaan ini kadang sangat merugikan, saya pernah terpaksa bolos kuliah karena keberangkatan kereta yang dibatalkan.. Bahkan ada kejadian lucu yang pernah dialami teman kampus saya yang bernama Rio, dia nekat meminta surat pengantar dari kepala stasiun pondok ranji untuk diberikan kepada dosen nya, yang berisi alasan mengapa ia datang terlambat, yaitu:

kereta mogok di tengah jalan, lalu sekonyong-konyong, tiba-tiba, berjalan mundur! Betulan! Mundur!

Teman saya yang kesal itu sampai-sampai membuat julukan buat PT KAI dan commuter, yaitu PATKAI dan kok-muter-muter. Mungkin maksudnya menyindir jadwal kereta yang suka molor lelet seperti patkai, tokoh siluman babi di serial kera sakti, dan menyindir pelayanan kereta yang gak jelas dan muter-muter, hehe.

Dan keadaan itu akhir-akhir ini semakin memburuk.. Dimulai dari beberapa bulan yang lalu, diawali dengan suatu pengumuman dari pihak PT KAI bahwa akan terjadi banyak keterlambatan jadwal kereta, dikarenakan ada pengecekan terhadap kelayakan kondisi rel dan rangkaian kereta sehingga kecepatan kereta harus diturunkan.. Saat itu juga, pagi itu, efek dari pengumuman itu mulai terasa. KRL ekonomi jam 6.00 yang biasa saya naiki, diundur keberangkatannya. Saya yang hari itu lagi UAS langsung gelap mata dan membeli tiket AC express.. Setelah naik dan duduk di kereta express, tiba-tiba KRL ekonomi jalan.. Kurang ajar gak tuh? Dan kadang, hingga sekarang efek dari kebijakan ini masih terasa.. Kereta terlambat, jadwal tiba-tiba berantakan.. Wihh, kalo kata orang-orang pinter di Senayan mah, pengumuman ini berdampak sistemik!

Belum lagi bila hari sebelumnya hujan besar. Kemungkinan besar hari ini jadwal kereta pasti berantakan. Alasan pertama, rel di Kampung Bandan terendam banjir. Alasan kedua, jembatan di Rangkasbitung-Cisauk ada yang ambrol. Alasan ketiga, terjadi gangguan sinyal di Tanah Abang.. Masih belum lepas dari ingatan saya, Rabu lalu banyak jadwal kereta yang telat dan dibatalkan karena alasan kedua dan ketiga. banyak dari teman-teman saya sesama mahasiswa yang terpaksa datang telat ke kampusnya, padahal sudah berangkat dari pagi. Dan jangan harap ada kompensasi dari PT KAI atas segala kerugian ini.. Hanya ada pengumuman maaf, maaf, maaf, dan maaf berulang-ulang dan ulang kali.. Emang maaf bisa buat nambah IPK atau buat beli beras pak?

***

Begitulah potret yang saya tangkap dari penyediaan jasa transportasi publik ini.. Ya walau sebenarnya pasti ada sisi baik dari penyediaannya, namun secara garis besar raport PT KAI masih merah.. Bagaimana pemerintah mengharapkan masyarakat untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi, kalo pelayanan transportasi publik aja masih seperti ini. Tidak adanya kompensansi dari kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan dan kecacatan pelayanan PT KAI mengakibatkan mereka senantiasa mengulang dan mengulang kesalahan mereka. Itu mungkin ciri buruk dari monopoli suatu penyediaan jasa bagi kebutuhan publik, dimana daya tawar atau daya protes dari konsumen yang kecewa sangat lemah, sehingga si penyedia jasa bisa petantang-petenteng aja, konsumen bukan raja karena mereka tidak bisa banyak bersuara.. Buat apa coba dijadiin Perseroan Terbatas (BUMN) kalo kinerjanya gak jauh beda sama pas masih jadi plat merah? Mungkin perlu diberi sedikit persaingan agar PT KAI bisa bekerja efisien. Seperti Pertamina yang mulai bagus kinerjanya setelah Petronas, Shell, Total, dsb diizinkan masuk sebagai distributor BBM di Indonesia dan bersaing dengan Pertamina yang sebelumnya diberi hak monopoli dalam distribusi BBM di Indonesia..

Yah, itu mimpi jangka panjang.. Agak muluk sih.. Untuk sekarang, mungkin kita hanya bisa mengeluh, dan pelan-pelan, memaklumi keadaan ini.. Seperti kata bapak-bapak pedagang sayur yang saya ajak ngobrol ketika saya naik langsam,

"Kalo saya sih, yang penting bisa pulang pergi sama barang dagangan saya, Mas"

Wassalam,
Akbar Gani
Read More …

Ada suatu perumpamaan menarik yang pernah saya dengar. Perumpamaan itu kurang lebih berbunyi: "secara logika, bisa saja kita menganggap bahwa lebih menguntungkan memiliki jam yang mati atau rusak, ketimbang memiliki jam atom yang masih aktif, hanya saja menunjukkan waktu yang terlalu cepat satu detik"

Menarik kan? Dilihat dari segi logika memang masuk akal. Kenapa saya berpendapat begitu? Untuk menjawab itu mungkin ada baiknya saya jelaskan mengenai dua jam di atas terlebih dahulu.

Jam mati atau rusak, tentu tidak perlu saya jelaskan panjang lebar. Semua orang tahu apa itu jam rusak. Jam rusak ya jam yang sudah berhenti berdetak.. Namun lucunya, jam yang rusak itu bisa menunjukkan waktu yang benar sebanyak dua kali dalam satu hari. Tidak percaya? Coba matikan jam anda, lalu lihat, misalkan saja anda mematikannya pada saat jarum panjang menunjuk angka dua belas dan jarum pendek menunjuk angka dua. Maka, tentu saja jam tersebut akan  menunjukkan waktu yang benar pada saat tepat jam 02.00 malam dan jam 14.00 siang. Mengerti kan maksud saya?

Nah kalo jam atom, mungkin masih banyak yang asing dengannya. Jam atom adalah jam yang menjadi standar atau acuan bagi satuan detik. Pada dasarnya, lamanya satu detik itu sangat sulit ditentukan. Bagaimana kita mengukurnya? Apa acuannya?

Biasanya pada jam tangan atau jam dinding, kita menggunakan osilator elektronis yang digerakkan oleh kristal kuarsa (atau quartz crystal ) untuk menentukan lamanya satu detik. Sederhananya, jam tangan atau jam dinding kita menggunakan perhitungan frekuensi getaran yang dihasilkan oleh kristal kuarsa yang tertanam di dalam jam tersebut. Karena menggunakan kristal kuarsa, makanya jam tangan atau jam dinding biasanya dilabeli dengan kata quartz (atau quartz watch).

Tapi untuk suatu perhitungan akurat, kristal kuarsa memiliki kendala dalam hal akurasi. Karena frekuensi getaran kristal tersebut sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri dan dimensi kristal. Padahal, dalam proses pembuatan jam (proses fabrikasi), sering terjadi deviasi atau perubahan (kecacatan) geometri dan dimensi kristal tersebut. Selain itu, frekuensi getaran juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan (terutama suhu), yang akan berakibat pada keakuratan detik.

Karena kelemahan tersebut, kristal kuarsa tidak digunakan dalam perhitungan yang membutuhkan keakuratan waktu tinggi. Sebagai gantinya, digunakan jam atom. Jam atom adalah sebuah alat fisika yang menghitung frekuensi dari resonansi spin elektron valensi dari atom Cesium-133. Jam ini sangat akurat, dan menjadi standar waktu untuk satuan detik dunia. Bahkan katanya jam ini hanya meleset satu detik dalam dua ribu tahun. Artinya, setiap dua ribu tahun, jam tersebut baru terlambat satu detik karena deviasi resonansi.

Nah, dari paparan di atas, udah nangkep logikanya belum? Wah belum? Oke saya jelaskan..

Begini, jam rusak, seperti yang sudah saya jelaskan di awal, walaupun mati setidaknya masih dapat menunjukkan waktu yang benar sebanyak dua kali dalam satu hari. Sedangkan jam atom yang terlalu cepat satu detik, hanya akan menunjukkan waktu yang tepat satu kali dalam dua ribu tahun. Hal tersebut terjadi ketika jam atom mengalami deviasi resonansi sehingga meleset dan terlambat satu detik. Sehingga, jam atom yang tadinya terlalu cepat satu detik, menjadi normal karena adanya keterlambatan satu detik.

Mengerti kan? Simpel sekali ya, haha

***

Mungkin anda akan berpikir, ah logika ngawur, gak mutu. Ya, memang bisa dibilang logikanya ngawur. Kalo cuma masalah kecepetan satu detik sih, gak ngaruh-ngaruh amat kok. Tinggal kitanya aja yang ditelatin satu detik.

Ya, memang hal di atas bisa saja menurut saya. Dan memang exercisable. Namun, kalau itu yang kita lakukan, berarti kita sudah tidak murni lagi menggunakan logika. Tapi kita sudah membaurkannya dengan toleransi. Ya, toleransi. Suatu keadaan pikiran dan hati yang aneh, menyimpang dari logika, namun, bisa jadi merupakan suatu anugerah yang dimiliki manusia.

Toleransi itu biasanya datang dalam dua wujud, dua wujud yang biasanya dianggap hina oleh para pemuja logika. Wujud itu adalah nurani (atau biasanya orang menyebutnya intusi, feeling, perasaan, dsb) dan imajinasi. Toleransi datang dan menghaluskan logika yang kasar, memberi warna pada logika yang hitam-putih, dan melembutkan logika yang kaku.. Bahkan bisa juga mengabstrakkan dan membengkokkan logika yang pasti dan lurus.

Banyak orang lebih suka membelenggukan diri kepada logika dengan dogmanya yang kaku, dan saya kenal beberapa orang yang seperti itu. Mereka biasanya menganggap nurani dan imajinasi itu ilusi, tidak nyata, pseudo-real.. Tapi mereka lupa, bahwa sebenarnya kedua hal ini lah yang menjadi kekuatan pikiran manusia. Karena logika yang dingin itu pada dasarnya hanya bisa dipakai sebagai alat untuk menelaah hal-hal yang teknis dan empiris, namun sering gagal dalam menelaah hal-hal lainnya dalam kehidupan. Bahkan, seorang ilmuwan hebat sekaliber einstein menempatkan imajinasi, intuisi, dan agama (dalam hal ini, agama saya anggap lahir dari nurani) dalam derajat yang tinggi.. Hal itu tercemin dari quotes-quotesnya yang terkenal,

"Logic will get you from A to B. Imagination will take you everywhere."
-Albert Einstein-

"The only real valuable thing is intuition"
-Albert Einstein-

"Science without religion is lame, religion without science is blind."
-Albert Einstein-

Dan lihat betapa hebatnya toleransi tersebut dalam menghasilkan suatu penemuan.. Einstein menolak skeptisme dalam berpikir, skeptisme dilakukan hanya dalam melakukan suatu perhitungan, tetapi tidak dalam berpikir. Skeptisme dalam berpikir hanya akan melahirkan pemikiran-pemikiran yang kaku dan dingin. Dan tentu pemikiran seperti ini tidak akan menghasilkan suatu inovasi, hanya berfungsi sekadarnya dalam menelaah hal yang empiris atau sudah terjadi.

***

Jadi sebagai kesimpulan, bagi anda yang sering terbelenggu dengan logika, dan merasa terkekang dengan kotak dogmanya yang kaku. Ingatlah perumpamaan anekdote jam ini. Bahwa kadang logika yang kaku mungkin bisa sangat menyesatkan. Dan sedikit toleransi tidak akan membunuhmu.


Wassalam,
Akbar Gani
Read More …

Hari ini, aku bercumbu dengan maut


Hari ini, aku bercumbu dengan maut
Hampir saja aku bersetubuh dengannya
Diantara kosong pikiran dan mata nanar
Deru kereta dan histeris ibu-ibu berangkat kerja

Malam sebelum penghabisan
Bercanda mesra dengan final piala dunia
Bersorak gembira riang tawa
Gemuruh, lupa aku akan kewajiban

Pagi, datang terlalu cepat
Aku banyak mengeluh,
mengumpat kepada kuliah yang hadir mendadak
Tak lupa ku maki dalam hati pengemis yang menghalangi jalan ku

Di kereta, tak lupa aku mencari kursi
Lelah ternyata merupakan setan yang bersembunyi di balik tubuh
Membuatku tak acuh, duduk terpejam, tak memperhatikan ibu tua
Yang tampak payah berdiri bergoyang dipermainkan kereta

Hari ini, aku bercumbu dengan maut
Hampir saja aku bersetubuh dengannya
Diantara lelah yang menjelaga tubuh
Absensi kuliah dan tugas yang membelenggu

Tersadar ketika kereta bergerak
Stasiun tujuan mulai bergerak menjauh
Tanpa sadar, takut berkuasa
"Aku tak ingin masuk telat!"

Loncat, tepelanting, bersetubuh dengan tanah..
Berenang aku di peron, diiringi histeria penghuninya
Berputar, berkelebat bayangan kereta
Hampir menyambar kembali badan ku yang tadi dimuntahkannya

Hari ini, aku bercumbu dengan maut
Hampir saja aku bersetubuh dengannya
Diantara pikiran kosong aku terjaga
Menatap langit tempatku terbaring

Tuhan, kelak suatu saat, bila Engkau benar-benar akan memanggiku ke hadirat Mu
Aku ingin meminta, tolong ingatkan aku untuk sholat
Ingatkan aku untuk tidak mengeluhkan kehidupan
Ingatkan aku untuk mengesampingkan lelahku dan memberikan kursiku kepada orang tua
Ingatkan aku untuk tidak memaki pengemis, walau hanya di dalam hati
Serta ingatkan aku, untuk berpamitan kepada kedua orang tua ku
Dan cabut nyawaku, dalam tenang..

Terima kasih, telah memberikan waktu tambahan
Dan kesempatan bagi ku untuk sedikit terjaga..


12072010
Wassalam,
Akbar Gani
Read More …