Ada anekdot menarik mengenai ekonomi yang pernah saya baca.. Sangat menarik, dan lucu, sehingga membuat saya pusing sekaligus tertawa.. Begini kira-kira anekdot tersebut..
Ada dua orang mahasiswa S2. Mereka masing-masing juga adalah seorang pengusaha, bahkan bisa dibilang pengusaha yang sangat sukses.. Mereka adalah dua orang milyader, atau bahkan trilyuner, yang mungkin, saking bosannya dengan kehidupan usahanya, memutuskan untuk kuliah lagi. Tentunya kuliah ekonomi..
Dua orang mahasiswa ini, adalah rival. Yang satu ingin selalu mengalahkan yang lain.. Keduanya bila sedang bersama, selalu terlihat sedang beradu argumentasi..
Pada suatu hari, saat mau berangkat kuliah, mereka berjalan berdua. Seperti biasanya, mereka berdebat sepanjang jalan.. Di tengah jalan, salah satu dari mereka, sebut saja si A, melihat kotoran kerbau.. Ide iseng pun muncul dibenaknya.. Lalu ia pun menantang rivalnya, sebut si B, untuk memakan kotoran kerbau itu.. Bila rivalnya itu mau, ia akan memberikan uang sebesar 100 trilyun kepada rivalnya..
Si B awalnya marah besar.. Dalam hati ia merasa terhina karena martabatnya sebagai seorang yang terhormat seperti dilecehkan oleh tantangan si A.. Namun, sebagai seorang pengusaha dan akademisi ekonomi, ia pun memikirkan masak-masak tantangan tersebut.. Secara ekonomi, cost dan benefit, tantangan itu masuk akal dan sangat menguntungkan.. Akhirnya dengan pertimbangan yang matang, dan sedikit berat hati, ia pun menyetujinya..
Si B pun memakan kotoran kerbau tersebut.. Dan si A pun harus mentransfer 100 trilyun kepada si B..
Mereka pun melanjutkan perjalanan.. Beberapa saat kemudian, si B melihat ada kotoran kerbau. Kali ini, si B yang tadi sempat merasa terhina, merasa sangat tidak adil bila hanya ia yang memakan kotoran kerbau.. Lalu ia pun menantang si A untuk memakan kotoran kerbau tersebut.. Si A yang sudah bangkrut, setuju bila si B juga memberikan uang 100 trilyun kepadanya.. Si B pun setuju dengan syarat itu.. Dan si A akhirnya memakan kotoran kerbau juga..
Setelah melanjutkan perjalanan, mereka berdua pun sadar.. Dan tentu saja, menyesal.. Pada akhirnya, mereka berdua tidak mendapatkan gain atau profit apapun, dan alih-alih, malah mendapati diri mereka telah memakan kotoran kerbau.. Mereka bingung dengan kejadian ini, dan memutuskan untuk menanyakan kepada profesor mereka mengapa mereka bisa tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari suatu transaksi yang seimbang dan dilakukan berdasarkan rasio ekonomi..
Setelah menemui profesor dan menceritakan kejadiannya.. Si profesor, yang rupanya seorang ahli ekonomi pemerintahan, malah lebih terkejut lagi, lebih tepatnya, terkejut bahagia.. Si profesor tampak begitu senang dan sumringah dan bahkan berteriak gembira.. Kedua mahasiswa itu pun bingung dan heran atas reaksi si profesor.. Lalu setelah berhasil menguasai diri, si profesor pun berujar dengan semangat "Tahukah kalian? bahwa kalian baru saja memberi sumbangsih terhadap kenaikan Pendapatan Domestik Bruto nasional sebesar 200 trilyun hanya dengan transaksi memakan kotoran kerbau!! jenius!!!"
***
Dari anekdot ini bisa dilihat sebenarnya, bahwa terkadang indikator Pendapatan Domestik Bruto itu bisa rancu atau misleading kalo hanya disajikan dalam jumlah angka bulat total.. Namun, untuk menyajikan rinciannya, selain rumit, juga jarang orang awam tanpa latar belakang pendidikan ekonomi yang akan dengan mudah dapat memahaminya..
Saya sering melihat di koran, di bagian ekonomi, ada berita mengenai pendapatan bruto nasional yang mengalami peningkatan.. Namun di halaman selanjutnya, di bagian sosial politik, terdapat berita mengenai kemiskinan yang masih belum tertanggulangi atau bahkan semakin parah, daerah-daerah yang masih tertinggal dan belum masuk listrik, meningkatnya angka kematian karena gizi buruk, pendidikan yang semakin tak teraih oleh masyarakat, belum terentaskannya buta huruf, serta meningkatnya jumlah TKI walaupun sering terdengar berita bahwa di negeri seberang majikan lebih ganas daripada kopral operasi seroja atau kodim semasa orba yang tidak dapat jatah beras seminggu. Kadang saya sering mendengus melihatnya, koran ini seperti mewartakan suatu ironi, atau malah sinisme.. Pendapatan Nasional naik? lalu bagaimana distribusi kenaikannya? Apakah kenaikannya akibat sektor moneter, yang kebanyakan dinikmati oleh golongan kecil konglomerat? Ataukah kenaikannya akibat konsumsi pemerintah yang naik? Terhambur dalam kunjungan luar negeri, studi banding, uang lembur untuk tidur di ruang sidang, dan apa? renovasi gedung DPR??
Akibatnya, akhir-akhir ini, saya jadi sering berpikir iseng, setiap membaca, melihat di tv atau mendengar berita tentang kenaikan pendapatan negara atau pertumbuhan ekonomi bangsa.. Jangan-jangan kemarin Sudono Salim, Abu Rizal Bakrie, atau Budi Sampoerna habis memakan kotoran kerbau..
Wassalam,
Akbar Gani
Ada dua orang mahasiswa S2. Mereka masing-masing juga adalah seorang pengusaha, bahkan bisa dibilang pengusaha yang sangat sukses.. Mereka adalah dua orang milyader, atau bahkan trilyuner, yang mungkin, saking bosannya dengan kehidupan usahanya, memutuskan untuk kuliah lagi. Tentunya kuliah ekonomi..
Dua orang mahasiswa ini, adalah rival. Yang satu ingin selalu mengalahkan yang lain.. Keduanya bila sedang bersama, selalu terlihat sedang beradu argumentasi..
Pada suatu hari, saat mau berangkat kuliah, mereka berjalan berdua. Seperti biasanya, mereka berdebat sepanjang jalan.. Di tengah jalan, salah satu dari mereka, sebut saja si A, melihat kotoran kerbau.. Ide iseng pun muncul dibenaknya.. Lalu ia pun menantang rivalnya, sebut si B, untuk memakan kotoran kerbau itu.. Bila rivalnya itu mau, ia akan memberikan uang sebesar 100 trilyun kepada rivalnya..
Si B awalnya marah besar.. Dalam hati ia merasa terhina karena martabatnya sebagai seorang yang terhormat seperti dilecehkan oleh tantangan si A.. Namun, sebagai seorang pengusaha dan akademisi ekonomi, ia pun memikirkan masak-masak tantangan tersebut.. Secara ekonomi, cost dan benefit, tantangan itu masuk akal dan sangat menguntungkan.. Akhirnya dengan pertimbangan yang matang, dan sedikit berat hati, ia pun menyetujinya..
Si B pun memakan kotoran kerbau tersebut.. Dan si A pun harus mentransfer 100 trilyun kepada si B..
Mereka pun melanjutkan perjalanan.. Beberapa saat kemudian, si B melihat ada kotoran kerbau. Kali ini, si B yang tadi sempat merasa terhina, merasa sangat tidak adil bila hanya ia yang memakan kotoran kerbau.. Lalu ia pun menantang si A untuk memakan kotoran kerbau tersebut.. Si A yang sudah bangkrut, setuju bila si B juga memberikan uang 100 trilyun kepadanya.. Si B pun setuju dengan syarat itu.. Dan si A akhirnya memakan kotoran kerbau juga..
Setelah melanjutkan perjalanan, mereka berdua pun sadar.. Dan tentu saja, menyesal.. Pada akhirnya, mereka berdua tidak mendapatkan gain atau profit apapun, dan alih-alih, malah mendapati diri mereka telah memakan kotoran kerbau.. Mereka bingung dengan kejadian ini, dan memutuskan untuk menanyakan kepada profesor mereka mengapa mereka bisa tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari suatu transaksi yang seimbang dan dilakukan berdasarkan rasio ekonomi..
Setelah menemui profesor dan menceritakan kejadiannya.. Si profesor, yang rupanya seorang ahli ekonomi pemerintahan, malah lebih terkejut lagi, lebih tepatnya, terkejut bahagia.. Si profesor tampak begitu senang dan sumringah dan bahkan berteriak gembira.. Kedua mahasiswa itu pun bingung dan heran atas reaksi si profesor.. Lalu setelah berhasil menguasai diri, si profesor pun berujar dengan semangat "Tahukah kalian? bahwa kalian baru saja memberi sumbangsih terhadap kenaikan Pendapatan Domestik Bruto nasional sebesar 200 trilyun hanya dengan transaksi memakan kotoran kerbau!! jenius!!!"
***
Dari anekdot ini bisa dilihat sebenarnya, bahwa terkadang indikator Pendapatan Domestik Bruto itu bisa rancu atau misleading kalo hanya disajikan dalam jumlah angka bulat total.. Namun, untuk menyajikan rinciannya, selain rumit, juga jarang orang awam tanpa latar belakang pendidikan ekonomi yang akan dengan mudah dapat memahaminya..
Saya sering melihat di koran, di bagian ekonomi, ada berita mengenai pendapatan bruto nasional yang mengalami peningkatan.. Namun di halaman selanjutnya, di bagian sosial politik, terdapat berita mengenai kemiskinan yang masih belum tertanggulangi atau bahkan semakin parah, daerah-daerah yang masih tertinggal dan belum masuk listrik, meningkatnya angka kematian karena gizi buruk, pendidikan yang semakin tak teraih oleh masyarakat, belum terentaskannya buta huruf, serta meningkatnya jumlah TKI walaupun sering terdengar berita bahwa di negeri seberang majikan lebih ganas daripada kopral operasi seroja atau kodim semasa orba yang tidak dapat jatah beras seminggu. Kadang saya sering mendengus melihatnya, koran ini seperti mewartakan suatu ironi, atau malah sinisme.. Pendapatan Nasional naik? lalu bagaimana distribusi kenaikannya? Apakah kenaikannya akibat sektor moneter, yang kebanyakan dinikmati oleh golongan kecil konglomerat? Ataukah kenaikannya akibat konsumsi pemerintah yang naik? Terhambur dalam kunjungan luar negeri, studi banding, uang lembur untuk tidur di ruang sidang, dan apa? renovasi gedung DPR??
Akibatnya, akhir-akhir ini, saya jadi sering berpikir iseng, setiap membaca, melihat di tv atau mendengar berita tentang kenaikan pendapatan negara atau pertumbuhan ekonomi bangsa.. Jangan-jangan kemarin Sudono Salim, Abu Rizal Bakrie, atau Budi Sampoerna habis memakan kotoran kerbau..
Wassalam,
Akbar Gani
